PERINGATI HARI WAYANG, PEPADI SRAGEN GELAR PENTAS WAYANG KULIT 24 JAM

SRAGEN – Peringati Hari Wayang Internasional dan Hari Wayang Nasional 2019, Persatuan Pedalangan Dalang Indonesia (Pepadi) Sragen menggelar Pagelaran Wayang Kulit 24 Jam 24 Dalang 24 Lakon di Alun – Alun Sasono Langen Putro Sragen, Kamis (7/11/2019) pagi.

Ki Sabar Sadhono dengan lakon Prabu Boko sebagai dalang pembuka pagelaran wayang yang dimulai Kamis (7/11) pukul 09.00 WIB dan berakhir hari ini Jumat pada pukul 09.00 WIB.

Ketua panitia pagelaran wayang, Ki Bambang Sarjito mengatakan, pagelaran wayang kolaborasi 24 dalang ini baru pertama kali digelar di Sragen.

“Untuk memperingati 16 tahun wayang diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia sekaligus memberi kesempatan dalang-dalang di Sragen untuk mengekspresikan karyanya di dunia pedalangan,” kata Bambang.

Bambang melanjutkan, seluruh dalang yang tampil, merupakan dalang asli Sragen. Meskipun ada beberapa dalang yang berasal dari luar daerah namun seluruhnya merupakan kelahiran Sragen.

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jawa Tengah Untung Wiyono ketika membuka acara menyambut baik acara pagelaran wayang ini.

Dirinya berharap kegiatan ini mampu mendongkrak kembali popularitas dalang, terutama di generasi muda.

“Sosialisasi budaya wayang ini penting, terutama bagi keberlangsungan wayang itu sendiri di tengah gerusan arus modernisasi, nguri-uri budaya lah,” lanjut dia.

Kembali eksisnya perwayangan dikatakannya memang perlu kerjasama seluruh pihak. Dengan guyub rukun pasti akan lebih kuat.

“Jangan lengah, seni itu indah, hati kita bisa lembut karena mendengarkan musik. Mari menjaga dan mencintai budaya ini seni wayang khususnya,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno menyampaikan wayang ialah bagian dari harmonisasi kehidupan.

“Wayang itu semua ada seninya, mulai memukul gamelan, memainkan wayang, bernyanyi ada seninya dan harmonisasinya ini bisa ditiru dalam kehidupan sehari-hari,” terang Wabup.

Dirinya menyampaikan selama hidup menggunakan harmonisasi terkait dengan nilai budaya, gotong-royong, Pancasila tidak akan ada yang namanya radikalisasi.

“Mari kita Nguri-uri budaya wayang, sekaligus mengangkat Indonesia ke kancah internasional. Budaya tidak boleh berhenti di generasi kita saja,” lanjut dia.

Menurutnya, Jawa sebagai lahirnya wayang, nilai-nilai sudah mulai berkurang. “Namun diluar Jawa, pagelaran wayang seperti ini sampai pagi pun masih banyak yang menonton,” pungkasnya.

Wabup Dedy berharap ekstrakurikuler wayang diadakan di sekolah-sekolah di Kabupaten Sragen untuk mengenalkan kembali wayang kepada anak-anak. (MY_HUMAS)