UJI KOMPETENSI PERANGKAT DESA, NILAI MINIMAL 60 DAN HARUS SELESAI 32 HARI KERJA

Sragen – Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 10 tahun 2018 tentang petunjuk pelaksanaan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Sragen Nomor 8 tahun 2017 tentang perangkat desa, telah disahkan pada tanggal 22 Pebruari 2018 dan disosialisasikan oleh Bupati Sragen dr. Kusdinar Untung Yuni Sukowati dihadapan Camat dan Kepala Desa se Kabupaten Sragen, Senin (26/2/2018)
Bupati Sragen menyampaikan, untuk mengisi kekosongan perangkat desa dilakukan dengan Mutasi, Penjaringan dan Penyaringan yang dilaksanakan dengan uji kompetensi. “ 4 -9 Maret Desa harus segera melakukan penataan untuk menyesuaikan SOTK yang baru. Setelah ada yang kosong selanjutnya dilakukan Mutasi dan penjaringan/penyaringan dari para perangkat desa yang ada. Baru setelah ada yang kosong menjadi kesempatan orang luar perangkat desa untuk mengisi kekosongan lewat perekrutan dengan uji kompetensi tersebut, jelas Bupati.
Bupati tekankan, “untuk uji kompetensi secara mutasi nilainya minimal 60. jika tidak ada tetap dibiarkan kosong, selanjutnya dilakukan dengan cara penjaringan dan penyaringan perangkat desa serta 32 hari kerja harus selesai”.
Sementara Kabag Pemerintahan Desa, Suharyanto menyampaikan, “Dilapangan memang banyak kekosongan. Dengan sosialisasi ini ada penjelasan penataan SOTK dan pengisian perangkat. ”Agar tidak membuat tafsir sendiri-sendiri, Masing masing desa harus menyusun Perdes SOTK, dari pola lama akan dimasukkan ke Pola baru,” jelasnya.
Dia menyampaikan dalam hal ini tidak ada demosi atau penurunan jabatan. Selain itu untuk posisi carik dan bayan melalui mutasi antar jabatan maupun penjaringan. ”Desa segera melakukan pengisian serentak dengan mengisi antar jabatan dulu, kalau tidak ada yang mengisi dari penjaringan dan penyaringan,” ujarnya.
Sedangkan Ketua Forum Komunikasi Kepala Desa (FKKD) Sragen Sutrisna menyampaikan mengapresiasi DPRD dan Bupati yang sudah mengakomodir semua kepentingan. ”Tidak ada yang mengganjal, dengan mekanisme ini diharapkan menghasilkan perangkat yang pinter tenan lewat uji kompetensi. Apalagi banyak keluhan perangkat yang sekarang yang belum sesuai harapan kita, seperti ijasah hanya SMP, komputer tidak paham dan sebagainya,” ungkapnya. (Humas)